KAIDAH DA’WAH

Hidup adalah pilihan, termasuk dalam hal keyakinan. Soal kepercayaan ini sangatlah penting bagi saya, karena keyakinan akan mempengaruhi cara pandang seseorang dalam memahami sesuatu. Domain berpikir sesorang akan sangat dipengaruhi oleh apa yang diyakininya. Maka nilai kebenaran itu bisa jadi berbeda bagi setiap orang, relatif terhadap apa yang diyakininya. Maksudnya, kita harus tetap bertoleransi atas apa yang diyakini oleh orang lain. Tentunya bertolransi dalam makna keyakinan kami (islam), karena Islam juga mengajari kepada bagaimana harus bertoleransi (ada kaidah-kaidahnya juga).

Kembali ke tentang pilihan, saya memiliki pilihan, kehendak bebas untuk memilih keyakinan mana yang saya yakini, dan pilihan saya adalah menjadi seorang muslim (penganut agama islam).

Kita semua meyakini bahwa setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, maka konsekuensi saya dengan menjadi seorang muslim adalah berda’wah atau mengajak (memaksa) menuju kebaikan. Hal ini yang jadi salah satu pembeda dengan agama lain, dalam keyakinan kami, berda’wah menjadi sesuatu yang wajib alias harus dilakukan (fardhu ‘ain), karena setiap muslim adalah penerus risalah dari Rasul (Muhammad SAW), dan dengan berjalan di jalan da’wah inilah cara kami untuk menjadi bermanfaat untuk semua orang (being a good man).

Soal berda’wah, upaya persuasif, hal ini bukanlah amalan yang bisa dilakukan secara sporadis, asal asalan, atau sekenanya saja. Tidak, Indahnya, Islam punya kaidah-kaidah, cara atau panduan bagaimana da’wah seharusnya dilakukan. hal ini juga yang membuat saya terkesan dengan islam. Betapa lengkapnya agama ini, ia mengatur banyak aspek kehidupan. Islam punya banyak wajah, termasuk dalam hal berda’wah, ada kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan.

Kaidah-kaidah ini jadi suatu penting untuk dipahami karena berda’wah itu bukanlah sekedar menyampaikan syariat (hukum), namun menyentuh hati, memberikan solusi,  membatu permasalahan hidup setiap orang, menebar manfaat kepada orang lain. Banyak orang salah kaprah mengenai da’wah, tidak sedikit  orang menjadi traumatik dengan istilah da’wah, yang tergambar dalam pikirannya da’wah itu membosankan, menyinggung perasaan, menyakiti hati karena banyak yang dilakukan oleh muslim itu sekadar menyampaikan syariat, tidak memperhatikan kaidah-kaidah da’wah. Maka dari itu kaidah ini penting agar tindakan atau cara yang kita gunakan dalam berda’wah ini tidak mengurangi kelegitan dan kenikmatan sebuah anugrah yang seharusnya dirasakan orang orang yang diajak, karena sejatinya apa yang kita tawarkan adalah sebuah permata berharga, yang jika seseorang meyakininya maka ia merasa bahagia (true happiness).

 “Berda’wah itu bukanlah sekedar menyampaikan syariat (hukum), namun menyentuh hati, memberikan solusi,  membatu permasalahan hidup setiap orang, menebar manfaat kepada orang lain.”

Sebuah kebaikan yang disampaikan dengan cara yang buruk maka akan menimbulkan kemudharatan yang lebih banyak daripada hikmah yang dihasilkan. Uang jutaan rupiah dilemparkan ke muka sungguh tidak mengenakkan. Menghapus bahagia menggores luka. Maka berhati hatilah dengan cara yang digunakan, perhatikan kaidah kaidahnya.

Kali ini kaidah yang ingin saya bagikan adalah

“Pahala da’wah yang didapat terletak pada aktivitasnya, bukan pada hasil”

Karena pahala ini tergantung pada aktivitasnya, maka ketika amal da’wah kita mendapat banyak penolakan, menerima cercaan, atau mungkin sudah dilakukan berkali kali namun tidak juga berbuah maka tak perlu kecewa, berputus asa. Teruslah berda’wah, mengajak, asalkan istiqomah terus mengajak pada kebaikan maka neraca pahala itu akan semakin berat, meskipun secara kuantitas mungkin tidak banyak yang percaya. Sungguh mulianya Islam, dalam hal kebaikan yang sati ini; berda’wah, Allah tidak menjadikan output sebagai tumpuan atau tolak ukur amal, urusan hasil serahkan kepada Allah, karena hidayah hanya milik-Nya, kita hanya diminta fokus untuk keistiqomahan (kebersinambungan) tetap bertahan di jalan da’wah, jalan yang lurus.

Makna yang kedua dari kaidah ini adalah bersabarlah dalam menyampaikan dan mengajak untuk kebaikan (berda’wah), karena yang perubahan itu butuh proses, butuh waktu. Setiap perubahan pastilah muncul gesekan, semakin cepat perubahan itu maka semakin pula gesekannya. Semakin kita terburu-buru, tidak sabar, maka dapat meperuncing hubungan bahkan bisa terjadi perdebatan.

Bersabarlah, telah banyak kisah yang Allah abadikan mengenai kesabaran di jalan da’wah ini. Simak kisahnya Nuh yang yang Allah sebut dan diabadikan dalam Quran (Surat Nuh), Kisahnya Yunus yang ditelan Ikan Nun, Muhammad SAW yang begitu sabar menghadapi kaumnya yang kerap berlaku keras padanya.

Kaidah Ini hanyalah salah satu kaidah da’wah, menuju kebaikan. Masih banyak kaidah yang lainnya mengenai berda’wah yang juga perlu kita perhatikan dan pahami. InsyaAllah jika kita semua memahai kaidah-kaidah da’wah maka da’wah ini akan tersama nikmat, da’wah ini akan banyak dirindukan oleh setiap manusia. Da’wah akan sampai merasuk dengan ke dalam setiap  hati insan dengan tulus jika kita paham betul kaidahnya.

Semangat Berda’wah!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s