MASALAH GANTUNGAN

Waktu itu hari Ahad, langit mulai memerah lembayung mengakhiri siang di hari itu. Sepulang Majelis3 (majelis rutin alumni SMA) di luar kota (Cimahi), akhirnya sampailah di depan rumah. Gelap, lampu rumah semuanya mati, dan pagar digembok. Gatau harus kemana, akhirnya pergi ke masjid sambil menunggu waktu isya tiba dan melepas lelah.Selesai tahiyyat sunnah rawatib, seorang ustadz menghampiri dengan wajahnya yang berseri, bersih juga bikin tenang kalo diliat. Bapak Mustafa.Lc, beliau adalah guru tercinta, meski belum lama saya belajar pada beliau tapi sesuatu membuat saya terkagum kagum dengan beliau, merantau dari Jawa tengah tapi tak sekali nampak logat medoknya, mungkin udah lama juga di Mesir kali ya.

“Assalamualaikum, Ki, gimana udah lulus ya?”, seketika menyapa dengan suaranya yang khas lembut (indah dan nikmat pokonya kalo diimami beliau).  “Waalaikumslam, alhamdulillah ustadz sudah 2 minggu kemarin”, jawab saya. “Gimana jadi ke perusahaan minyak itu, Schlum schlum.. apa itu namanya?”, tanya beliau. “Iya stadz inginnya kesitu, sedang proses tapi sedikit tersendat. Belum ada slot katanya stadz“, lanjut saya. Beliau merubah posisi duduknya, tersenyumlah beliau dan menatap, “Oh gitu, Ki tau ga saya punya hajat dan berdoa sama Allah, ya Allah karuniakanlah saya mobil, untuk berda’wah. Targetnya sih 2 taun kedepan mudah mudahan tercapai. Kemaren kemaren istri saya bilang Bi beli mobil yu. Waduh, uang dari manaa ini (berbisik dalam hati). Tapi subhanallah, adaa aja rezekinya, adaa aja jalannya, baru aja kemarin saya beli. Gantungkan cita-citamu pada Allah Ki. Rifqi tau kan saya disini gapunya siapa siapa gakpunya apa apa, sodara ga ada, pindahan baru, rumah saja saya itu alhamdulillah ada saja rezekinya. Allah memang tak pernah kecewakan hambaNya yang hatinya tertambat pada Nya”.

Terhempas, rasanya kalimat itu benar benar membekas dan benar benar diingatkan kembali. Kalimatnya sederhana

Gantungkan cita-citamu pada Allah”

tapi seringkali lalai dilaksanakan, saat musibah menimpa, diuji oleh Allah tak mudah rasanya menolehkan hati menemukan kembali kalimat itu, pun jakalau ingat pada kalimat itu tidaklah mudah pengamplikasiannya. Mungkin dari dulu udah sering denger juga kalimay “Gantungkanlah cita citamu setinggi tingginya”. Gak salah memang, tapi jangan bawa tinggi tinggi kalo gak punya gantungan yang kuat, semakin tinggi semakin sakit kalau jatuh. Hati hati kalo bergantung sama manusia, siap siap sakit jatoh dari ketinggian.

Beliau melanjutkan pembicaraannya, “Malah saya mintanya ga tinggi tinggi, kalo punya mobil cukup lah yang biasa saja, Avanza dan sejenisnya. Tapi sekali lagi Allah memang pandai membahagiakan hambaNya, rezekinya saya dikasi Nissan Juke sama Allah. Ki, gantungkan semuanya sama Allah, Allah pasti kasih yang lebih dari yang kamu minta, syaratnya satu hal”. Dengan penuh penasaran, “Apa itu stad?”. “Mujahadah, artinya melakukan sesuatu melebihi yang biasanya dilakukan, kalo biasanya shalat jamaah di masjidnya 3 kali sehari, ini jadi full 5 kali, kalo yang biasanya shalat dhuha 3 kali seminggu, ini jadi tiap hari, kalo yang biasanya thajjudnya 2 kali seminggu, ini jadi  tiap hari pun sama halnya dengan ikhtiar duniawi. Kalo itu bener bener kepegang, insyaAllah”.

“Mujahadah, artinya melakukan sesuatu melebihi yang biasanya dilakukan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s