DUAPULUH

Terkadang kita terlalu sering menempatkan spasi dalam perjalanan hidup ini. Begitu banyak peristiwa terjadi pada diri, sedih susah senang menjadi bumbu perjalanan hidup namun tak jarang kita lupakan begitu saja tiap momen yang terjadi, sehingga hidup ini terasa sangat singkat seperti seperti waktu yang dilipat.Allahuakbar Allahuakbar… , adzan subuh berkumandang merdu bersautan menyapa
udara dingin Lembang, kalimat indah  sapaan Tuhan pada makhluknya untuk beribadah. Dinginnya ubin penghilang kantuk seketika. Mengikuti kebiasaan baik sang kakek yang senantiasa terbiasa pergi ke masjid disetiap waktu shalat.

Hari itu adalah hari Ahad, 23 Maret 2014. Pagi hari sudah bersiap meluncur menggunakan “kharisma”, sepeda motor yang sudah berumur kurang lebih 9 tahun, speedometernya pun sudah melewati angka 99999km dan kini sudah lewat angka 20000km. Sembari nikmati udara segar pagi hari di Lembang, angin sepoi-sepoi dan pemandangan indah Kota Bandung terhampar disamping kiri menjadi sebuah pelepas penat dan hiburan bagi saya. Sepinya suasana & kicau burung masih jelas terdengar, membuat pikiran menjadi rileks dan ketika itu terlintas dalam pikiran “bener-bener ga kerasa, 1 hari lagi genap sudah usia jadi kepala 2 ya, mau ngapain terus entar kalo udah kepala dua?”. Malu rasanya ketika umur sudah akan genap 20 tahun belum bisa menghasilkan suatu karya atau pencapaian diri yang mengagumkan sebagaimana yang dilakukan para pendahulu kita para Sahabat Rasul, Ulama Sufi, Orang-orang besar yang sudah bisa memetik kesuksesan disaat umurnya masih 20 tahun. “Mau dibawa kemana hidup ini, sudah telatkah saya untuk sukses diusia muda seperti mereka?”, “Apa rencana hidup mu kedepan jen?”. Macem-macem pertanyaaan terlontar dengan spontan disaat sedang meluncur dari Lembang menuju Cibiru. Sungguh waktu berlalu begitu cepat melampaui usaha dan kerja selama 19 taun ini. Sadar bahwa banyak target yang belum tercapai di 19 ini, banyaknya dosa yang dilakukan selama ini.

Teringat perkataan Mas Dito saat Senja sore di pelataran Masjid PUSDAI, Bandung “Tiap orang pasti punya titik hitam dalam hidupnya, dan tugas kita bukan tuk menangisi dan menyesali tapi temukan cahaya tuk memudar titik hitam dalam hidup”. Ya, setiap orang pasti memiliki masa kelam dalam hidupnya, tak terkecuali orang-orang besar sekalipun jadi wajar pabila kita pernah “rusak” pernah “khilaf”.

Sibuk nanya ke diri sendiri, eh gak kerasa udah di depan rumah, buka gembok, masuk rumah, nyuci, bersih-bersih kemudian lanjut meluncur lagi ke Training Saksi & lanjut #Majelis3 yang kebetulan banget bahasan di Ahad ini tentang tujuan hidup. Sungguh cukup bagi saya #Majelis3 dan pendidikan SABAR, SYUKUR ini sebagai hadiah di dua puluh. Betapa nikmatMu mengaruniai kerabat – kerabat yang baik yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan yang bisa dianggap sebagai keluarga terdekat selain keluarga turunan. #Alhamdulillah.

Nah, ini yang menarik. Di #Majelis3 ini disinggung sedikit tentang “Sabar dan Syukur”. Di 3 tahun ini(2012, 2013, 2014) banyak banget pelajaran bagi saya, terutama soal SABAR dan SYUKUR. Diawali betapa sulitnya menerima takdir dan situasi didunia perkuliahan, sampe nekat nyoba lagi dan resiko dapet “Surat Peringatan Tulis 2” dari Institusi(artinya satu kali lagi dapet pelanggaran berat saya D.O.) tapi memang ternyata benar “Rencana Allah akan selalu berbuah manis pda waktunya”, tidak ada rencana indah seindah rencanaNYA. Akan panjang memang jika harus diceritakan secara gamblang pembelajaran hidup saya tentang dua hal yang kembar identik ini, SABAR dan SYUKUR.

SABAR adalah sebuah bentuk rasa SYUKUR terhadap sebuah NIKMAT berupa MUSIBAH dan SYUKUR adalah sebuah bentuk rasa SABAR terhadap sebuah MUSIBAH berupa NIKMAT

Kalimat itu yang kini menjadi landasan bahwa pada dasarnya setiap apa yang  diberikan Allah SWT itu netral. Masalah kita selamat atau tidak itulah hasil dari respon diri yg diberikan  terhadap suatu yang netral. Kita sendirilah yang mewarnai takdir tersebut, apakah menjadi yang selamat atau sebaliknya.

Allahuakbar Allahuakbar…, kembali tak terasa waktu bergulir begitu cepat langit sudah mulai memerah berhias lembayung senja, Adzan maghrib pun berkumandang. Sudah terlalu malam bagi kami untuk meneruskan bincang-bincang, berbagi cerita, canda, tawa, bersama #keluargatiga, saatnya kembali pulang, kembali bekerja menatap masa depan dan laksanakan amanah yang diemban dan capai target Sukses di Usia Belia!. Sungguh kado luarbiasa dihari Ahad ini 🙂

“Spasi memang akan selalu ada dan dibutuhkan dalam kehidupan, oleh karenanya pandai pandailah meletakkan spasi dalam hidup agar tak terlewat momen indah yang datang tuk meninggalkan bekas”

Terima Kasih Semuanya.

Advertisements

One thought on “DUAPULUH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s